afala tatafakkarun tulisan arab

Adasekitar 2,600 perkataan dalam Bahasa Arab diadaptasikan ke Bahasa Melayu, dua daripadanya ialah perkataan fikir (fikr) dan zikir (zikr). Pada mulanya saya ingin menamakan tajuk tulisan ini hanya, “antara fikir dan zikir” tetapi merubahnya kepada, “antara berfikir dan berzikir”, ini disebabkan terlalu luas makna fikir sehingga mencapai duapuluh (20) takrifan. Ikansecara keseluruhan sangat bermanfaat bagi kesehatan, terutama untuk otak Anda. Ikan penuh dengan Omega-3, yang merupakan asam lemak yang sangat bermanfaat bagi tubuh dalam berbagai aspek.Makan satu porsi ikan seminggu dapat sangat mengurangi satu peluang untuk mendapatkan penyakit Alzheimer.Asam lemak ini membantu dengan fungsi Seemore of Gerakan SADAR INFAQ on Facebook. Log In. or Diakemudian membatasi dirinya pada teologi yang paling orthodox, sehingga orang tidak menemukan apapun dalam tulisan-tulisannya, sebagaimana dalam tulisan-tulisan filasuffilasuf lainnya, sesuatu yang disembunyikan yang dijelaskan setelah kematian mereka. Agama & Hegemoni Negara 59 Kadangkala mereka menggunakan cara-cara yang paling keras. AllahSWT sering memperingatkan manusia untuk menggunakan fitrah inteleknya, misalnya dengan kalimat: afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala tubshirun, afala tadabbarun, dan sebagainya, karena daya dan fitrah intelek ini yang dapat membedakan antara manusia dan Bayi Tidak Mau Menyusu. Tafakkur is an important component that must be possessed by every believer, because tafakkur is a reflection of a believer. I can see all the benefits and bad things through it. Thus explained Al-Hasan. With tafakkur, the believer will know the nature and secrets of creating his creations or stories that occur around him. So, in this process, you will also need to know about what is contained in it, as well as the environment. From several suggestions for good recitation from the Qur&39;an and Hadith that can prove that tafakkur is a very important thing. This is what makes the wisdom expert and the Sufis discuss about taking only to recite about Allah&39;s creation. They understand that by meditating they will find peace, find pleasure and ugliness and know the secret behind the creation of Allah&39;s creation. The animal of rationale. Seperti perkataan seorang filsuf Athena, Aristoteles. Ia memberikan suatu makna yang memungkinkan manusia terus eksis dalam kehidupannya. Tak ayal jika dalam Al-Qur’an banyak ungkapan retoris afala ta’qilun. Juga afala tatafakkarun, atau afala yatadabbarun yang tidak kurang dari 200 kali. Tulisan ini akan menguraikan ayat Farmakognosi dalam kerangka Islam. Manusia yang memiliki akal-pikiran al-hayawan an-natiq seyogianya berfikir tafakkur dan memahami tafaqquh. Kemudian merenungi tadabbur fenomena alam yang sejatinya adalah tanda kebesaran ilahi dalam tatanan kosmologi yang fana ini. Tanda kebesaran Tuhan tidak serta merta berupa legal-etis mengajak manusia hidup di jalan yang benar atau salah. Dalam hal ini, manusia perlu untuk mengkaji dan berdialektika dengan alam melalui suatu riset nalar practical dan instuitif empirical untuk mereguk pesan moral yang terkandung di dalamnya. Penalaran Manusia Kemampuan nalar atau disebut aql ju’zi memungkinkan manusia memahami fenomena eksternal yang nampak. Serta kemampuan instuisi atau dikenal aql kulli membuat manusia mampu melihat aspek internal dan realitas esetoris. Demiakian cara Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya. Melalui ayat normarif yang diwahyukan secara langsung berupa nomos bagaimana manusia semestinya hidup qauliyah. Juga melalui ayat fenomenologis yang memerlukan telaah dan kesadaran kauniyah. Sejatinya, sumber ilmu dalam Islam ada dua, wahyu Al-Qur’an dan alam semesta. Mengamalkan dan mentafakkuri keduanya menjadi suatu wasilah yang menempatkan manusia dalam hierarki nilai penghambaan yang sejati. Sebagai khairu ummah atau tataran al-makrifah. Sayyed Muhammad Nuqaib Al-Attas memberikan suatu metodologi episteme antara bahasa wahyu dan bahasa penciptaan, yakni metode tafsir dan takwil. Untuk memahami ayat-ayat pasti digunakan metode tafsir dan untuk memahami ayat-ayat yang samar diperlukan metode takwil. Tafsir bukanlah pemahaman yang final, dibutuhkan takwil untuk mendapatkan makna yang komprehensif dan lebih mendalam. Ayat Farmakognisi Ayat farmakognosi adalah ayat yang menelaah khasiat obat yang terkandung dalam aneka macam tumbuhan. Terdapat perbedaan pendapat tentang jumlah ayat farmakognosi dalam Al-Qur’an. Meski sekurang-kurangnya terdapat 750 ayat yang menyebut aneka tumbuhan, ayat farmakognosi termasuk ke dalam ayat kauniyah. Karena memahami manfaat pengobatan dalam tumbuhan membutuhkan riset ilmu pengetahuan. Berbeda dengan Barat, riset ilmu farmakognosi dalam Islam tidak bebas nilai value-laden. Melainkan terdapat syariah sebagai basis nilai dasar kemanusiaan yang membingkainya. Karena sejatinya ilmu pengetahuan dalam Islam dipahami sebagai suatu produk pemahaman atas wahyu Tuhan yang didukung oleh agama dan diperkuat dengan akal-instuitif manusia. Tumbuhan Obat dalam Al-Qur’an Dalam bukunya dengan tajuk “Tumbuhan Obat dalam Al-Qur’an”, seorang Sarjana Farmasi Universitas Gadjah Mada UGM, Karyanto. Ia hanya menguraikan 23 jenis tumbuhan yang disebutkan secara leksikal dalam ayat Al-Qur’an. Seperti al-mann Al-Baqarah 57, Al-A’raf 160, Thaahaa 80-81. Kemudian basal atau bawang merah, fum atau bawang putih, qiththa atau mentimun dan adas atau kacang Al-Baqarah 61. Lalu, inab atau anggur Al-An’am 99, Ar-ra’d 4, nakhl atau kurma An-Nahl 16, Al-Kahfi 32, rumman atau delima Al-An’am 141, Ar-Rahman 68, zaitun Al-Mu’minun 20, At-Tin 1. Selanjutnya Zaqqum Ash-Shaffat 62-68, Al-Waqiah 52-55, khardal atau rai Al-Anbiyaa 41, Luqman 16, Sidr atau bidara. Juga khamt atau siwak dan athl Saba’ 16, yaqtin atau labu Ash-Shaffat 146, rayhan atau kemangi Ar-Rahman 26, Al-Waqiah 89. Ward atau mawar Ar-Rahman 37. Talh atau pisang Al-Waqiah 29, kafur Al-Insan 5, zan jabil atau jahe Al-Insan 17. Lalu buah tin At-Tin 1, dhari Al-Gahsiyah 6-7, tuba Ar-ra’d 29. Ada banyak sekali khasiat obat dalam buah dan tumbuhan di atas sebagaimana diuraikan Karyanto dalam buku ini. Salah satunya adalah khasiat basal atau bawang merah yang banyak manfaat. Seperti memperkuat lambung, membangkitkan gairah, memperbanyak hormon, menghaluskan kulit, menghilangkan dahak serta membersikan lambung. Juga pisang dengan kandungan vitamin C, B1, B2, B6, B12, bisa menghilangkan sesak dada, gangguan paru-paru, batuk, kolestrol, luka ginjal. Bahkan kandung kencing yang memperlancar buang air kecil Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2004 354-355. Tafakkur Ayat Kauniyah Dengan mentafakkuri ayat-ayat kauniyah, kita tentu menyadari bahwa semua ciptaan Tuhan di dunia merupakan rahmat besar dari-Nya. Tuhan sendiri telah membekali manusia dengan kondosi ontis yang sempurna sebagai modal untuk menguak tanda-tanda kebesaran-Nya. Kondisi kemanusiaan itu menuntut kita untuk selalu bertafakkur tentang ciptaan-Nya. Al-Qur’an merepresentasikan itu dengan tokoh Ulil Albab yang senantiasa berdzikir dan berfikir sebagai pedoman hidupnya Ali Imran 190-191. Oase semangat tafakkur terhadap alam kaun terus dinyalakan oleh para ilmuan Muslim. Mereka juga mengkhawatirkan realitas sains modern Barat yang terus menggempurkan adanya free value tanpa terikat dengan kerangka nilai dan dogma religius. Mereka yang diakui sebagai pelopor muslim adalah Sayyed Hussein Nasr, seorang Fisikawan muslim asal Iran dengan konsep “Islamisasi sains”. Sayyed Muhammad Nuqaib Al-Attas dengan semangat “Islamisasi ilmu” dan Islmail Raji Al-Faruqi yang menawarkan pembaharuan “Islamisasi pengetahuan modern”. hal. 11 Islamisasi Sains Islamisasi sains isalamization of science adalah semangat kebugaran konsep yang membangun paradigma keilmuan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Baik aspek ontologis, epistimoligis maupun aspek aksiologisnya. Sains Islam adalah pengetahuan yang dibedakan dari sains Barat. Epistimologi sains Islam tetap dalam koridor nilai syariah sebagai basis orientasi yang tidak distruktif dan inheren dengan permasalahn manusia. Usaha ini merupakan bagian manifestasi bentuk syukur atas rahmat tuhan yang telah menjadikan manusia sebaik-baiknya makhluk. Barang tentu ini wujud keshalehan sosial yang berusaha menempatkan relasi manusia dan alam berada terus dalam koridor kemanfaaatan. Sehingga manusia selalu berada dalam ikhtiyar penghambaan untuk mencapai ridho-Nya. Sejalan dengan ayat yang menggoreskan tujuan hidup dalam sanubarinya wa ma khalqtul jinna wal insa illa liya’buduni. “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku saja” Adz-Dzariyat 56. Tentang Buku Judul Tumbuhan Obat dalam Al-Qur’an Perspektif Sains Islam Bidang Farmakognosi Penulis Karyanto Penerbit Global Mediana Indonesia, Depok Tahun Terbit Edisi I, April 2021 Tebal 99 Halaman ISBN 978-623-93053-1-4 Penyunting Ahmed Zaranggi “AFALA TA’QILUN DAN AFALA YATAZAKKARUN” BERULANGKALI DALAM QUR-ANULKARIM BUKANKAH INI MENUNJUKKAN BEGITU PENTINGNYA BAGI MANUSIA UNTUK BERPIKIR? BUKANKAH IBADAH BERPIKIR YANG TERTINGGI NILAINYA DISISI ALLAH? IBADAH LAINNYA AKAN SIRNA ANDAIKATA MANUSIA TIDAK MENGAWALINYA DENGAN IBADAH BERPIKIR KECUALI BAGI KAUM AWWAM hsndwsp Acheh - Sumatra di Ujung Dunia Bismillaahirrahmaanirrahiim وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ -٣٠- وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ -٣١- قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ -٣٢- "Dan ingatlah ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka Bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan mengadakan kerusakan dan pertumpahan darah di sana, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia Berfirman, “Sesungguhnya, Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” QS, 2 30 ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... Allah menjadikan Wakilnya, Nabi Adam di Bumi untuk membimbing manusia dan jin ke jalanNya yang benar tetapi para Malaikat mengkhawatirkan nanti manusia akan melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Sepertinya para Malaikat menghendaki agar merekalah yang akan dijadikan sebagai Wakilnya dengan alasan mereka senantiasa bertasbih dan memujiNya. Disini terindikasi bahwa dengan alasan senantiasa bertasbih dan memujinya, tidak tepat untuk menjadi Wakil Tuhan. Setelah memberitahukan para Malaikat bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui para Malaikat, Allah menjelaskan alasanNya kepada yang bertanya baca para Malaikat. Hal ini menjadi titik awal yang harus dipikirkan Manusia dan Jin bahwa kita tidak boleh sekedar mengatakan “ya” atau “tidak” tanpa alasan yang membuktikan “ya” dan “tidak” tadi. Setelah membuktikan alasannya dengan mempersilakan Para Malaikat untuk bernegosiasi dengan Adam/Manusia. Setelah Adam mengalahkan para Malaikat, pelajaran yang harus kita petik adalah, para Malaikat sebagai pihak yang lemah argumennya saat bernegosiasi, langsung mengaku kesala hannya dan meminta maaf kepada Allah swt hingga Allah memerintahkan kepada semua Malaikat untuk sujud kepada Adam. Realitanya semua Malaikat menta’ati perintah Allah kecuali Malaikat yang bahan bakunya Api Iblis, secara takabbur menentang perintah Allah hingga Allah memfonis nya sebagai “Kafir”. Andaikata Allah swt menjadikan wakilNya dalam bentuk Malaikat dimana Manusia tidak mampu melihatnya bagaimana mungkin mengikutinya secara sempurna. Hal itu sama saja tanpa wakilNya Allah juga mampu membimbing manusia kejalan Nya yang lurus. Sebagai contoh, Allah pasti bisa menurunkan hujan tanpa Malaikat yang ditugaskan untuk urusan tersebut, tetapi kenapa Allah tidak langsung menurunkan hujan untuk kawasan yang dibutuhkannya? Realitanya Allah Membuat Matahari untuk memanaskan permukaan Laut. Air laut yang sudah panas membubung naik ke udara proses penguapan/destilasi. Lalu angin meniupnya ke kawasan gunung. Hujan lebat turun di gunung lalu membentuk sungai, lalu kembali menggapai laut. Yang ditugaskan Allah untuk urusan tersebut adalah Malaikat aparatNya tetapi diatur melalui proses destilasi alami agar Manusia tidak buntu saat berpikir proses penurunan hujan tersebut. Demikian jugalah Allah tidak membimbing manusia dan jin secara langsung tetapi melalui WakilNya, dimana yang pertama adalah Adam alaihissalam. Andai kata Manusia memiliki bahan baku sama dengan Malaikat sinar, barulah wakilNya diangkat dari Malaikat. Pertanyaan selanjutnya adalah System yang dikehendaki Allah dalam kehidupan manusia dalam bernegara, bermasyarakat dan berkeluarga. Dalam hal ini Allah berkata “Innaddiina indallahil Islam”. Bagi manusia yang mau berpikir secara benar pasti yakin bahwa Agama itu tidak akan terpelihara keasliannya tanpa System yang benar baca Negara Islam/Daulah Islamiyah/System Islam. Yang perlu kita garisbawahi adalah “Substantif” nya bukan sekedar nama. Pada saat Nabi Adam sudah beranak pinak sebagai suatu keluarga dan itu juga sebagai masyarakat, disebabkan hanya itulah masyarakat manusia yang pertama, hukum kawinpun berbeda dengan hukum kawin di zaman kita sekarang ini yang juga beragama Islam, bermasyarakat Islam dan bernegara Islam tetapi substantifnya saja, tidak difokuskan pada nama. Sa’at Nabi Yusuf membangun Masyarakat Islam dan negara Islam di Mesir juga substantivenya jelas sekali sebagai “Negara Islam” dimana beliau mampu merobah kehidupan yang penuh perbudakan menjadi kehidupan yang Islami. Demikian jugalah yang diaplikasikan Nabi terakhir, Muhammad saww juga tidak dipopulerkan de ngan nama Negara Islam tetapi Suibstantifnya jelas sekali itu adalah Negara Islam. Mungkin timbul be berapa pertanyaan, diantaranya apakah tidak perlu kita berikan Namanya sebagai Negara Islam /System Islam/Daulah Islamiyah di zaman kita sekarang ini macam Republik Islam Iran? Jawabannya adalah nama juga penting tetapi nama tanpa substantive adalah penipuan yang membuat kaum mustadhafin dan kaum yang masih awwam terjerat dalam perangkap penipuan tersebut tanpa disadari. Dizaman kita sekarang ini satu-satunya negara Islam hanyalah Republik Islam Iran. Bayangkan andaikata Republik Islam Iran tidak memberikan nama negara Islam itu, kepada fenomena mana para Pemikir Islam memberikan contohnya sa’at mereka berbicara Negara Islam? Bukankah sangat beralasan kalau pemikir melupakan fenomena negara Islam setelah ideology kaum sekuler menyusub dalam masyarakat Islam paska kewafatan Rasulullah hingga begitu pahit bagi kita saat berbicara suatu system yang Islami? Namun yang sangat penting kita garisbawahi adalah Substantifnya, disamping nama. Sebab nama tanpa Substantif adalah penipuan luarbiasa. Pernahkah anda mendengar keterangan seorang Propessor bahwa negara Islam itu harus diberikan namanya sebagai negara Khalifah, hingga beliau ragu saat melihat Republik Islam Iran dengan alasan negara tersebut tidak memberikan namanya sebagai Negara Khalifah? Beliau juga ragu disebabkan Republik Islam Iran termasuk aggota PBB, dimana beliau juga beralasan disebabkan PBB tidak perca ya kepada Tuhan yang Satu. Ketika beliau berbicara “Ilmu akhiriz Zaman”, beliau tidak dapat menunjukkan fenomena negara Islam yang beliau namakan Negara Khalifah, hanya beliau mampu menunjukkan fenomena Nasrani yang dekat hubungannya dengan kaum Muslimin baca al Maidah 82 yang diwakili oleh Rusia. Betapa pilunya kita kalau hanya mampu mengenal fenomena negara yang dekat dengan Negara Islam/System Islam tetapi fenomena Negara Islam/System Islam sendiri tidak kita kenal fenome nanya, padahal fenomena tersebut sangat jelas yaitu Republik Islam Iran. Mungkin keraguan beliau terhadap Syi’ah Imamiyah 12/Pengikut Ahlulbayt Rasulullah saw/Islam Mazhab Ja’fariah lah yang membuat beliau tidak mampu melihat fenomena negara Islam dewasa ini. Republik Islam Iran bersahabat baik dengan Rusia, Cina, Negara-negara Amerika Latin dan negara manapun yang berwawasan kemanusiaan serta toleran macam Indonesia dibawah kepemimpinan Jokowi dan Ahok Cina sekarang. Perlu digarisbawahi bahwa ada beberapa negara sekarang menamakan diri sebagai negara Islam tetapi substantifnya tidak Islami. Hal ini sama juga dengan orang Alim yang menggunakan surban/berpenampilan macam penampilan Ulama tetapi pikirannya tidak Islami, kan jauh lebih baik kita yang berpenampilan macam orang biasa tetapi pikiran kita Islami macam pikiran Ahlulbayt Rasulullah, minimal pikiran para Sahabat yang setia kepada Rasulullah baca Abu Dzar Ghifari, Al Miqdad dan Salman Al Farisi. Sebelum kita telusuri negara-negara yang sekedar nama saja macam “Nanggrou Acheh Darussalam” realitanya bukan negara tetapi Propinsi, “Brunai Darussalam”, “Arab Saudi yang hanya menggu nakan bendera bermotif Islam”, Negara Khalifah Islam made in Arab Saudi di Suriah+Irak ISIS yang takfiri dan teroris, marilah kita kunjungi Republik Islam Iran. Pada hakikatnya semua negara dibagi kepada 2 katagorie, Negara berkedaulatan Allah dan negara yang berkedaulatan Taghut. Yang terakhir negara Taghut dibagi kepada 2 katagorie juga yaitu System Taghut Despotic dan System Taghut non Despotic. Yang Despotic fasad secara Horizontal dan vertical sedangkan yang non Despotik hanya fasad secara vertical dimana secara Horizontal tidak fasad. Perlu digarisbawahi bahwa Allah swt memfokuskannya secara Horizontal dan system yang fasad secara horizontal, secara verticalpun otomatis ikut fasad. System Kedaulatan Allah di RII, kekuasaan tertinggi dikendalikan oleh seorang Ulama yang disebut “Imam” baca Ayatullah Ruhullah Imam Khomaini yang pertama, kemudian digantikan oleh Ayatullah Sayed Ali Khameney Rahbar. Dibawahnya adalah 12 Ulama Warasatul Ambya’. Lalu dilanjutkan oleh ParlemenLegislatif dan Presiden serta para menterinya, Eksekutif dan Yudikatif. Inilah yang disebut System Wilayatul Fakih, penemuan Imam Khomaini yang belum ada duanya di zaman kita sekarang. Setelah Parlemen membuat Undang-Undang, naskah tersebut diserahkan kepada 12 Ulama/Fakih untuk diteliti apakah bertentangan dengan Qur-an atau tidak. Andaikata bertentangan, dikembalikan untuk diperbaiki. Lalu kedua kali diserahkan kepada 12 Ulama/Fakih. Andaikata masih salah, Ulama/Fakih sendiri yang memperbaiki/mengoreksi, barulah ditandatangani setelah diperbaiki lalu diserahkan kepada Presiden untuk ditindaklanjuti/dilaksanakan sepenuhnya bersanma para Menterinya. Kebanyakan negara lainnya menggunakan system Teori John Locke, dimana ada yang Parlementer Kabinet dan ada juga yang Presidentil Kabinet. Yang Parlementer diatas sekali adalah Parlemen Legislatif, baru kemudian Presiden dan para Menterinya Eksekutif. Lalu diikuti oleh lembaga Yudikatif. Sedangkan yang Presidentil diatas sekali adalah Presiden Eksekutif, baru kemudia ParlemenLegislatif dan terakhir adalah Yudikatifnya. Dalam system yang menggunakan Teory John Locke lazimya yang Presidentil Kabinet, Presidennya menjadi Diktator sedangkan yang parlementer, lazimnya menjadi Diktator Mayority. Berbicara System Islam, mari kita berkaca pada Nabi Yusuf yang rupawan dan Islami. Ketika suatu komunitas/Negara dipimpin oleh orang-orang yang berwawasan kemanusiaan, kaum Muslimin tidak dibenarkan untuk berevolusi. Kecuali suatu negara sudah begitu menyelimet kezalimannya. Korupsi dan berbagai manipulasi sudah dianggap hal yang biasa macam Iran di zaman Syah Palevi, Irak di zaman Saddam, Libya di zaman Muammar Qardafi, Mesir din zaman Husni Mubarak dan Arab Saudi sejak dulu hingga kini dibenarkan berevolusi. Sayangnya saat terjadinya revolusi di Tunisia, Mesir, Libya dan Timur tengah pada umumnya, revolusi hanya berjalan ditempat. Banyak tokoh di RII sendiri kala itu meyakini bahwa itu revolusi Islam yang diinspirasi Revolusi Islam Iran. Saya berkali-kali menolaknya bahwa itu Revolusi Rakyat, bukan revolusi Islam. Alasan saya disana tidak ada pemimpin yang Islami macam para Ulama yang berevolusi di Iran. Akibatnya paska tergulingnya penguasa despotic, rakyat lagi-lagi masuk perangkap konspirasi jahat hingga negara-negara arogan dunia tetap memainkan perannya di negara-negara yang barusaja berevolusi. Sebenarnya andaikata ada pemimpin yang Islami, masih ada cara lainnya untuk merobah suatu ke hidupan yang despotic menjadi Islami. Fenomena ini dapat diamati saat Nabi Yusuf mengaplikasikan kehidupan bernegara secara Islami ditengah-tengah komunitas manusia dimana yang kaya mem perbudak yang miskin. Nabi Yusuf sendiri diawali oleh perbudakan dirinya oleh saudara-saudaranya sendiri dan bahkan beliau hampir saja dibunuh oleh Yahuda, prototype Qabil anaknya Nabi Adam as, andaikata tidak dicegah oleh Lavi saudara Nabi Yusuf yang agak baik dibandingkan saudara Yusuf se-ayah lainnya. Ketika Yusuf masih kecil lagi, saudaranya se ayah sudah mulai dengki kepadanya, namun Yusuf tidak pernah sakit hati terhadap mereka. Yang pertama melontarkan niat membunuh Yusuf pertama sekali adalah Yahuda, hingga Lavi memperingatkan bahwa ucapan Yahuda itu sangat berbahaya. Yang lainnya menanyakan pada Lavi, apa solusi lainnya kalau tidak menerima usulan Yahuda. Lavi men jawab bahwa pertama sekali singkirkan aklternatif membunuh, barulah kemudian kita cari solusi lainnya. Singkat kata akghirnya mereka membujuk Yusuf agar mau dibawa kepadang pengembalaan yang diawali dengan rayuannya bahwa sangat asik bermain dipadang pengembalaan dan juga akan diajarkan ilmu untuk mengembala kambing. Ketika Yusuf memintakan Ayahnya agar diizinkan bergi bermain di padang pengembalaan, Nabi Ya’qub terpaksa mengizinkannya walaupun sebelumnya beliau tidak percaya i’tikat baik 10 anak-anaknya yang lain itu. Singkat kisah, Yusuf dimasukkan kedalam Sumur yang asin airnya hingga dengan mu’jizat Yusuf menjadi tawar. Ketika satu kafilah kehausan binatang tunggangannya, mereka terpaksa mendekati sumur tersebut walaupun pernah mereka tau bahwa airnya asin. Ketika Yusuf bergantung pada timba mereka dan terangkat keluar sumur, saudara-øsaudaranya datang dan memberitahukan kafilah bahwa Yusuf itu budak mereka. Setelah terjadi pertengkaran, akhirnya mereka bersedia menjual Yusuf dengan perjanjian mereka akan membawa Yusuf jauh dari Kan’an supaya tidak dapat kembali lagi dan Yusufpun memilih diperbudak untuk menghindarkan diri dari pembunuhan oleh saudaranya sendiri sesuai petunjuk Allah yang disampaikan Malaikat saat Yusuf berada dalam sumur. Film Nabi Yusuf episode 5 subtitle Indonesia Di pasar perbudakan Yusuf dibeli oleh Suami Zulaikha hingga beliau dibesarkan di Istana Zulaikha. Untuk lebih jelas fenomena Negara Islam dibawah pimpinan Nabi Yusuf di Mesir duklu, amatilah kesemua video tersebut sampai video terakhir, nomor 34. "Sorry, belum selesai dan belum di edit!" Al-Qur’an merupakan firman-firman Allah yang suci dengan kandungan makna yang mulia sebagai panduan kehidupan umat Islam di dunia. Dengan gaya bahasa yang indah dan penuh makna, Al-Qur’an mampu menyejukkan hati bagi yang membaca dan juga yang mendengarkannya. Selain dalam bentuk kalimat-kalimat pernyataan, Al-Qur’an juga memuat kalimat-kalimat pertanyaan yang bersifat introspektif untuk menyadarkan manusia. Di antara kalimat pertanyaan introspektif tersebut menggunakan banyak redaksi seperti “Afala Ta’qilun?” Tidakkah kamu mengerti?, “Afala Tadzakkarun?” Tidakkah kamu mengambil pelajaran?, “Afala Tubsirun?” Tidakkah kamu melihat?, “Afala Tasma'un?” Tidakkah kamu mendengarkan dan kalimat-kalimat lainnya. Semua kalimat pertanyaan ini mengajak manusia untuk melakukan muhasabah atau perenungan atas apa yang telah ditegaskan oleh Allah swt. Di antaranya seperti ayat Surat Al-Baqarah 44 yang mengajak manusia untuk menyuruh orang lain melakukan kebaikan namun dirinya malah yang tidak melakukannya. Ayat tersebut kemudian diikuti dengan pertanyaan “Afala Ta’qilun?” Tidakkah kamu mengerti?. Ayat ini menjadi pengingat dan perintah bagi manusia untuk konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Berikut 13 ayat Al-Qur’an yang di dalamnya mengandung kalimat “Afala Ta’qilun?” Tidakkah kamu mengerti? 1. Surat Al-Baqarah 44 اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca suci Taurat? Tidakkah kamu mengerti? 2. Surat Al-Baqarah 76 وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ قَالُوْٓا اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاۤجُّوْكُمْ بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Apabila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Akan tetapi, apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, “Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Apakah kamu tidak mengerti? 3. Surat Al-Imran 65 يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat dan Injil tidak diturunkan, kecuali setelah dia Ibrahim. Apakah kamu tidak mengerti? 4. Surat Al-An'am 32 وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? 5. Surat Al-A'raf 169 فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Kemudian, setelah mereka, datanglah generasi yang lebih buruk yang mewarisi kitab suci Taurat. Mereka mengambil harta benda duniawi yang rendah ini sebagai ganti dari kebenaran. Lalu, mereka berkata, “Kami akan diampuni.” Jika nanti harta benda duniawi datang kepada mereka sebanyak itu, niscaya mereka akan mengambilnya juga. Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam kitab suci Taurat bahwa mereka tidak akan mengatakan kepada Allah, kecuali yang benar, dan mereka pun telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu mengerti? 6. Surat Yunus 16 قُلْ لَّوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا تَلَوْتُهٗ عَلَيْكُمْ وَلَآ اَدْرٰىكُمْ بِهٖ ۖفَقَدْ لَبِثْتُ فِيْكُمْ عُمُرًا مِّنْ قَبْلِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Katakanlah Nabi Muhammad, “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak pula memberitahukannya kepadamu. Sungguh, aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya sebelum turun Al-Qur’an. Apakah kamu tidak mengerti? 7. Surat Hud 51 يٰقَوْمِ لَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗاِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى الَّذِيْ فَطَرَنِيْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Hud berkata, Wahai kaumku, aku tidak meminta kepadamu imbalan sedikit pun atas seruanku ini. Imbalanku hanyalah dari Tuhan yang telah menciptakanku. Apakah kamu tidak mengerti? 8. Surat Yusuf 109 وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ مِّنْ اَهْلِ الْقُرٰىۗ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اتَّقَوْاۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Kami tidak mengutus sebelum engkau Nabi Muhammad, kecuali laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan rasul? Sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mengerti? 9. Surat Al-Anbiya' 10 لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ Terjemah Sungguh, Kami benar-benar telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Apakah kamu tidak mengerti? 10. Surat Al-Anbiya' 67 اُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗاَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Apakah kamu tidak mengerti? 11. Surat Al-Mu'minun 80 وَهُوَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Bagi-Nyalah kekuasaan mengatur pergantian malam dan siang. Apakah kamu tidak mengerti? 12. Surat Al-Qashas 60 وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتُهَا ۚوَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ Terjemah Apa pun yang dianugerahkan Allah kepadamu, itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak mengerti? 13. Surat As-Saffat 138 وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ Terjemah dan waktu malam. Mengapa kamu tidak mengerti? Muhammad Faizin Islam obviously encourages its adherents to continuously think about their inner selves and all God’s creation in the universe as well. It is emphasized by Qur’anic verses which frequently mention “Afalaa Tatafakkarun” don’t you think?, “Afala Ta’qilun”, don’t you use your wits?, “Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun”, and in yourselves, don’t you see? .The Qur’an says and the Prophet is also asked to remind, particularly, the Arabic people and generally to all humankind as bellow;Then do they not look at the camels, how they are created? And at the sky, how it is raised? And at the mountains, how they are erected? And at the earth – how it is spread out? Al-Ghasyiyah [88] 17-20. In other verses, Allah also confirms and rebukes people frequently reciting or memorizing Qur’an but do not learn or understand its messages Then do they not reflect upon the Qur’an, or are there locks upon [their] hearts? Muhammad [47] 24. In fact, it is interesting to see the terms used in Quran to deliver the command to think. The use of prohibition term “do not” according to me is a slate within Qur’anic criticism. The term explicitly declares that Allah is insinuating those who are unwilling to think, brood over and pay attention to life. In Arabic literary, the way He says is called “Istifham Inkari” in which as if Allah saying “You all don’t think. Then, think about it!” Unfortunately, those verses above were no longer receive the earnest attention of most Muslims in present or even since long periods. It seems to be ignored and Muslim scholars were ceased for centuries. It is even worse seeing the current circumstance of Muslims in which there is a new perspective on religion among Muslims. It shows that they tend to be anti-intellectual dialectic as well as having a negative view on using rational-logic in understanding religion. According to this group, the sacred text must be understood and followed by its textual meaning with totally abandoning the rational perspective. They, instead, consider a creativity and innovation within religious practices as a misleading or popularly called “bid’ah” heresy. They even totally reject the different others. This group merely consider that their opinion is the only truth while others’ are defiant or infidels. In addition, at the extreme level, they generally also anti-everything from the West such as democracy, human right and including nation-state concept. The rejection is not merely against the West’s notion but, for some instances, also against the products of technology. It is like a paradox considering that in their daily life, they, in fact, use the West’s products while on the other hand, they also condemn it. This phenomenon basically remind us that if we are unwilling to think about or even anti-intellectualism, consequently we continuously must be lag and left behind and being marginalized in the world history. We always remain to become consumers of other’s intellectual and technological products. Therefore if we are yearning to be a glorious nation, there is no way but returning to the critics from the Qur’an; being critically thought, productive, open, using our mind to think about God’s creation, reflecting, exploring and managing it for the well-being of mankind. Let’s think, don’t be so emotional. Let’s reflect from Qur’an, don’t just memorize

afala tatafakkarun tulisan arab